Tuesday, January 22, 2013

Analisis Tokoh Kepemimpinan

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
I.      PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalu berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Hidup dalam kelompok tentu tidaklah mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati & menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan & menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia dianugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana yang baik & mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik. Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan social manusia pun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri.
Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok. Dan satu hal yang perlu diingat bahwa kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh aturan-aturan atau tata krama birokrasi. Kepemimpinan bisa terjadi dimana saja, asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya mempengaruhi perilaku orang lain ke arah tercapainya suatu tujuan tertentu.
Bahasan mengenai pemimpin dan kepemimpinan pada umumnya menjelaskan bagaimana untuk menjadi pemimpin yang baik, gaya dan sifat yang sesuai dengan kepemimpinan serta syarat-syarat apa yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin yang baik. Meskipun demikian masih tetap sulit untuk menerapkan seluruhnya, sehingga dalam prakteknya hanya beberapa pemimpin saja yang dapat melaksanakan kepemimpinannya dengan baik dan dapat membawa para pengikutnya kepada keadaan yang diinginkan.
Kepemimpinan dapat dikategorikan sebagai ilmu sosial terapan (applied social sciences). Hal ini didasarkan kepada pemikiran bahwa kepemimpinan dengan prinsip-prinsipnya mempunyai manfaat langsung dan tidak langsung terhadap upaya mewujudkan kesejahteraan umat manusia.
Kepemimpinan seperti halnya ilmu-ilmu yang lain, mempunyai berbagai fungsi antara lain, menyajikan berbagai hal yang berkaitan dengan permasalahan dalam kepemimpinan dan memberikan pengaruh dalam menggunakan berbagai pendekatan dalam hubungannya dengan pemecahan aneka macam persoalan yang mungkin timbul dalam ekologi kepemimpinan.
Kepemimpinan sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan, yang mempunyai peran penting dalam rangka proses administrasi. Hal ini didasarkan kepada pemikiran bahwa peran seorang pemimpin merupakan implementasi atau penjabaran dari fungsi kepemimpinan. Fungsi kepemimpinan merupakan salah satu di antara peran administrator dalam rangka mempengaruhi orang lain atau para bawahan agar mau dengan senang hati untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Gaya kepemimpinan, mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan.
Gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
 
II.      ISI
Paparan Konsep Tiga Gaya Kepemimpinan Teori kepemimpinan tertentu akan sangat mempengaruhi gaya kepemimpinan (Leadership Style), yakni pemimpin yang menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan segenap filsafat, keterampilan, dan sikapnya.
Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu. Gaya tersebut bisa berbeda – beda atas dasar motivasi, kuasa, ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu. Di antara beberapa gaya kepemimpinan, terdapat pemimpin yang positif dan negatif, di mana perbedaan itu didasarkan pada cara dan upaya mereka memotivasi karyawan. Apabila pendekatan dalam pemberian motivasi ditekankan pada imbalan atau reward (baik ekonomis maupun non-ekonomis) berarti telah digunakan gaya kepemimpinan yang positif. Sebaliknya jika pendekatannya menekankan pada hukuman atau punishment, berarti dia menerapkan gaya kepemimpinan negatif. Pendekatan kedua ini dapat menghasilkan prestasi yang diterima dalam banyak situasi, tetapi menimbulkan kerugian manusiawi. Tiga gaya kepemimpinan dalam Macionis, 2008
1.       Gaya Otoriter
Gaya kepemimpinan otoriter adalah gaya kepemimpinan yang menekankan pada perintah, mengambil keputusan personal dan meminta bawahan untuk mematuhinya. Walaupun kepemimipinan otoriter sedikit disenangi bawahannya namun kepemimpinan otoriter sangat tepat digunakan saat krisis.(Macionis, 2008) Dalam kepemimpinan ini, pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggota – anggota kelompoknya. Baginya memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok. Batasan kekuasaan dari pemimpin otoriter hanya dibatasi oleh undang – undang. Bawahan hanya bersifat sebagai pembantu, kewajiban bawahan hanyalah mengikuti dan menjalankan perintah dan tidak boleh membantah atau mengajukan saran. Mereka harus patuh dan setia kepada pemimpin secara mutlak.
KELEBIHAN:
a.       Keputusan dapat diambil secara cepat dan efisien
b.      Mudah dilakukan pengawasan (controling)
c.       Sangat cocok digunakan pada saat kelompok mengalami krisis
KELEMAHAN:
a.       Pemimpin tidak menghendaki rapat atau musyawarah.
b.      Setiap perbedaan di antara anggota kelompoknya diartikan sebagai kelicikan, pembangkangan, atau pelanggaran disiplin terhadap perintah atau instruksi yang telah diberikan oleh pemimpin
c.       Inisiatif dan daya pikir anggota sangat dibatasi, sehingga tidak diberikan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya.
d.      Pengawasan bagi pemimpin yang otoriter hanyalah berarti mengontrol, apakah segala perintah yang telah diberikan ditaati atau dijalankan dengan baik oleh anggotanya.
e.      Mereka melaksanakan inspeksi, mencari kesalahan dan meneliti orang – orang yang dianggap tidak taat kepada pemimpin, kemudian orang – orang tersebut diancam dengan hukuman, dipecat, dsb. Sebaliknya, orang – orang yang berlaku taat dan menyenangkan pribadinya, dijadikan anak emas dan bahkan diberi penghargaan.
f.        Kekuasaan berlebih ini dapat menimbulkan sikap menyerah tanpa kritik dan kecenderungan untuk mengabaikan perintah dan tugas jika tidak ada pengawasan langsung
g.       Dominasi yang berlebihan mudah menghidupkan oposisi atau menimbulkan sifat apatis.
2.       Gaya Demokratik
Dalam gaya kepemimpinan demokratik, pemimpin tidak banyak menggunakan kontrol apabila dibandingkan dengan ketiga gaya kepemimpinan sebelumnya. Pemimpin demokratik mengharapkan seluruh anggotanya untuk berbagi tanggung jawab dan mampu mengembangkan potensi kepemimpinan yang dimilikinya. Pemimpin yang demokratik, memiliki kepedulian terhadap hubungan antarpribadi maupun hubungan tugas di antara para anggota kelompok. Meskipun nampaknya kurang terorganisasi dengan baik, namun gaya ini dapat berjalan dalam suasana yang rileks dan memiliki kecenderungan untuk menghasilkan produktivitas dan kreativitas, karena gaya kepemimpinannya ini mampu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki para anggotanya.
a.       Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi
b.      Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan
c.       Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya
d.      Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menunjang harkat dan martabat manusia.
e.      Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.
3.       Gaya kepemimpinan Laissez Faire
Pemimpin memberikan kekuasaan penuh terhadap bawahan, struktur organisasi bersifat longgar dan pemimpin bersifat pasif. Yaitu Pemimpin menghindari kuasa dan tanggung – jawab, kemudian menggantungkannya kepada kelompok baik dalam menetapkan tujuan maupun menanggulangi masalahnya sendiri.
Gaya ini tidak berdasarkan pada aturan-aturan. Seorang pemimpin yang menggunakan gaya kepemimpinan ini menginginkan seluruh anggota kelompoknya berpartisipasi tanpa memaksakan atau menuntut kewenangan yang dimilikinya. Tindak komunikasi dari pemimpin ini cenderung berlaku sebagai seorang penghubung yang menghubungkan kontribusi atau sumbangan pemikiran dari anggota kelompoknya. Jika tidak ada yang mengendalikannya, kelompok yang memakai gaya ini akan menjadi tidak terorganisasi, tidak produktif dan anggotanya akan apatis, sebab mereka merasa bahwa kelompoknya tidak memiliki maksud dan tujuan yang hendak dicapai. Walau begitu, dalam situasi tertentu khususnya dalam kelompok terapi, gaya kepemimpinan laissez-faire ini adalah yang paling layak dan efektif dari gaya-gaya kepemimpinan terdahulu.
III.  KESIMPULAN
1.    Analisis Gaya Kepemimpinan SBY
        i.            Otoriter
Menurut pendapat kami gaya kepemimpinan SBY apabila ditinjau dari gaya kepemimpinan otoriter, seorang SBY merupakan sosok pemimpin negara yang sedikit menganut gaya kepemimpinan otoriter. Walaupun dulu adalah otoriter karena beliau adalah seorang militer namun sekarang adalah seorang sipil karena masih menjabat sebagai presiden. Hal ini terlihat jelas pada kutipan berita berita di atas. Menurut kelompok kami SBY lebih dominan menganut gaya kepemimpinan demokrasi sesuai dengan asas demokrasi yang dianut oleh negara ini (Indonesia). Dari proses pengambilan kebijakan, SBY tidak melakukannya sendiri namun melalui persetujuan pihak-pihak yang berwenang dan terkait misalkan DPR, MPR, MA dan lain-lain.

Namun dalam kondisi negara krisis peran SBY untuk menganut gaya kepemimpinan otoriter sangatlah diperlukan karena pada kondisi tersebut diperlukan tindakan yang cepat dan tepat. Namun dalam proses kepemimpinannya banyak sekali masalah masalah yang timbul terutama masalah korupsi di Indonesia yang sudah mendarah daging yang sulit diberantas dan merupakan tugas wajib bagi seorang pemimpin untuk menyelesaikannya. SBY merupakan sosok yang kurang tegas, sebenarnya gaya kepemimpinan demokratis sangatlah baik dan kita bersyukur tidak mempunyai pemerintah yang otoriter seperti “Yang Dipertuan Agung” atau pemimpin yang minta disembah dan lain-lain.
Kurang tegasnya ini adalah tentang penegakan hukum, banyak pejabat-pejabat yang bermasalah dengan hukum dan kemudian bersembunyi dan berlindung pada SBY (masuk parpol yang didukung SBY). Mungkin SBY tidak tegas karena beliau terpengaruh oleh filsafat Jawa yaitu rasa “pekewuh” atau istilah kita adalah rasa sungkan sehingga kita dalam memperlakukan lebihnya mengadili teman sejawat timbul perasaan tidak enak atau tidak etis apabila mengadili teman sendiri. Rasa inilah yang harus dihilangkan oleh seorang pemimpin. Pemimpin harus bisa bersikap dan bertindak objektif dan tegas demi kepentingan publik.
Sebenarnya ada lembaga-lembaga yang berdiri dalam kepemimpinan SBY untuk mengatasi permasalahan yang ada dan merupakan langkah yang baik. Misalkan KPK, sebuah lembaga yang mengatasi masalah korupsi. KPK ini memang saat pertama kali ada, banyak sekali kasus kasus korupsi yang terbongkar namun ironinya dari yang terungkap sangatlah sedikit dari jumlah kasus korupsi yang terungkap dan belum lagi usaha-usaha dari para oknum untuk melemahkan KPK dengan menjerat para pemimpin KPK dalam suatu kasus. Hal ini menujukkan bahwa di era kepemimpinan SBY banyak sekali lembaga-lembaga yang berdiri namun penegakan sangat kurang.
Serta dapat menarik sisi positif dari segi kepemimpinan SBY bahwa SBY adalah tipe pemimpin yang baik dalam mentransformasikan gaya kepemimpina otoriter ke demokratis. Apabila kita tarik pada masa lampau misalkan Alm. Mantan Presiden Suhato dimana Suharto dulunya adalah orang militer namun pada saat menjadi presiden beliau masih tetap menggunakan sikap otoriternya.
     ii.          Laissez faire
Dari sini dapat disimpulkan ada beberapa kondisi dimana seorang pemimpin tidak harus turun tangan memberikan instruksi yang harus dikerjakan kepada anggotanya dikarenakan masalah memerlukan pemecahan dengan waktu yang singkat dan anggota yang sudah ahli di bidang tersebut, dalam kasus ini yaitu bidang pertahanan.
   iii.          Demokratis
SBY sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Sangat jauh dari anggapan sementara kalangan yang menyebut SBY sebagai figur peragu, lambat, dan tidak "decisive" (tegas). Sosok yang demokratis, menghargai perbedaan pendapat, tetapi selalu defensif terhadap kritik. Hanya sayang, konsistensi Yudhoyono dinilai buruk. Ia dipandang sering berubah-ubah dan membingungkan publik.
Secara garis besar gaya kepemimpinan SBY adalah demokratis sesuai dengan asas demokrasi yang dianut oleh negara ini (Indonesia). Dari proses pengambilan kebijakan, SBY tidak melakukannya sendiri namun melalui persetujuan pihak-pihak yang berwenang dan terkait misalkan DPR, MPR, MA dan lain-lain. Namun dalam kondisi negara krisis peran SBY untuk menganut gaya kepemimpinan otoriter sangatlah diperlukan karena pada kondisi tersebut diperlukan tindakan yang cepat dan tepat.

 Lampiran Berita selama September 2010 Peneliti CSIS: SBY Tidak Tegas Tim Liputan 6 SCTV
01/09/2010 23:29
 Liputan6.com, Jakarta: Peneliti Departemen Hubungan Internasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Alexandra Retno Wulan mengemukakan bahwa pidato Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (1/9) malam, mencerminkan karakteristik kepemimpinan yang tidak tegas. Hal ini terlihat dari pernyataan SBY yang lebih mengedepankan hubungan RI-Malaysia di atas kepentingan bangsa Indonesia sendiri. SBY sama sekali tidak menyebutkan kata pertahanan atau militer serta lebih mementingkan masalah Tenaga Kerja Indonesia dan perekonomian dibandingkan kedaulatan Indonesia.
"Seorang pemimpin negara seharusnya bisa mengatakan bahwa ini adalah teritorial Indonesia," ujar Alexandra yang juga mempertanyakan prioritas pemerintah SBY dalam penyelesaian masalah perbatasan wilayah yang tak kunjung kelar.
Pidato SBY yang dipantau dunia internasional ini menjadi refleksi bagaimana seorang pemimpin yang tidak berbuat apa-apa terhadap masalah kedaulatan teritorial negaranya. Tindakan tegas berupa ancaman seperti menarik TKI dari Malaysia dibutuhkan agar Indonesia diperlakukan lebih baik oleh negara tetangga. Menurut Alexandra, tindakan tegas bukan berarti ajakan untuk perang. Ia pun menambahkan bahwa karakteristik ketegasan seorang pemimpin negara begitu dibutuhkan, yang akhirnya akan menentukan diplomasi bilateral hubungan RI dengan Malaysia di masa mendatang.(MRQ/ULF).
IV.     REFRENSI
http://riantiarno.blogspot.com/2010/11/presiden-sby-dalam-masa-kepemimpinan.html

Wednesday, January 2, 2013

Ilmu

Makanan kok ditiup?
oleh : Aulia Aprianne Putri adalah seorang siswi yang bercita-cita menjadi ahli programming

“ Sejak pagi hujan tak kunjung berhenti, dingin terasa menusuk tulang. Sang adik berusia 3 tahun berkata “ umi, aku lapar. ” umi pun menjawab, “ sabar ya sayang, umi buatkan makanan “. Karena cuaca yang dingin, umi berinisiatif untuk membuatkan sup cream agar menghangatkan suhu tubuh buah hatinya. Setelah sup pun sudah selesai dimasak, sang adik segera menyantap dimeja makan. Tak lupa berdoa sebelum makan. Lalu, umi pun bersiap menyuapi buah hatinya. Ia pun meniup-niup sup itu supaya tidak begitu panas jika dimakan oleh anaknya.”
Demikian sekutip cerita mengenai kebiasaan yang sering kita lakukan. Tidak hanya pada orang dewasa saja yang terbiasa meniup ketika minum teh pada pagi hari , tetapi sampai anak-anak pun terbiasa untuk melakuakan hal serupa, baik meniup makanan atau minuman untuk mendinginkan sebelum dikonsumsi.
Secara logika meniup makanan atau minuman adalah suatu kegiatan mengeluarkan zat kimia berupa gas karbondioksida (CO2) terhadap makanan yang ingin kita makan. Dan fase gas karbondioksida ini merupakan hasil respirasi dari tubuh yang mengandung racun. Sehingga kegiatan meniup dapat berbahaya bagi kesehatan.
Pada saat kita meniup tidak hanya mengeluarkan gas hasil pernafasan saja. Mulut juga akan mengeluarkan uap air dan berbagai partikel yang ada dari dalam rongga mulut. Paling mudah dideteksi adalah nafas atau bau mulut juga sering tercium. Bau mulut ini mengindikasikan ada partikel yang juga dikeluarkan dari mulut.
Partikel ini dapat berasal dari sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi, selain itu dapat juga berupa mikroorganisme yang hidup di rongga mulut. Mikroorganisme ini kadang bersifat merugikan dan bersifat sebagai pathogen. Hal inilah yang harus dihindari supaya jangan terbawa sehingga karena berupa partikel padatan akan dapat menempel dan mengkontaminasi pada makanan yang ditiup
Dan tak tertinggal, dari pihak lain yaitu alasan dari etik sosial, dimana meniup makanan memang di beberapa daerah, memang tidak dianjurkan. Jadi kalau kalian sedang makan makanan atau minuman yang panas, tentu saja bersabarlah dulu sebentar sehingga menjadi berkurang temperaturnya dan mulut dapat menerima masuk.
Benarkah cara demikian?
Terlintas memang tak terpikir apakah meniup-niup makanan itu sehat atau tidak bagi kesehatan? Tetapi islam mengajarkan kita, Sebagaimana dalam Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).
Lalu apa maksud dari hadist tersebut? Nabi memang melarang umatnya untuk meniup-niup makanan dan minuman panas? Loh, kalo gitu memang ga bagus dong makanan atau minuman ditiup-tiup? Tapi Nabi ga melarang kita mengipasi makanan. Berarti yang ga boleh itu meniup-niupnya kan?. Memang kenapa, nafasnya bikin makanan jadi bau? Atau takut berpenyakit?
Tetapi bukan, bedanya angin dari kipas angin dengan nafas manusia adalah komponen CO2 dan H20nya. Apa masalahnya dengan adanya 2 komponen ini? Sebenernya yang bermasalah bukan pada airnya tapi pada komponen yg berada di air.
Ingat kapur tohor? Waktu SD pernah ada percobaan kapur tohor dilarutkan dalam air lalu dicelupkan sedotan dalam air dan ditiup. Bagimana hasilnya? Ya, airnya menjadi keruh. Apa sebenarnya yg terjadi?
Kapur tohor (CaO) apabila ditiup oleh nafas manusia, bereaksi dengan CO2 dalam nafas, akan menjadi batu kapur (CaCO3). Masalahnya, batu kapur ini salah satu dari 4 batu ginjal yang paling sering ditemui. Kita ga pernah tau apakah air tersebut mengandung kapur tohor atau ga, tapi minimal dengan menghindari meniup-niup makanan dan minuman, kita mengurangi resiko terkena batu ginjal jenis kapur tersebut.
Dari segi kimiawi
Dengan diperkuat pendapat dari salah satu ahli kimia di Indonesia, ada yang menjelaskan secara teori bahwa: apabila kita hembus napas pada minuman, kita akan mengeluarkan CO2 yaitu carbon dioxide, yang apabila bercampur dengan air H20, akan menjadi H2CO3 (asam karbonat), yaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi acidic.
H2O + CO2 => H2CO3
Alasan yang dikemukakan adalah bahwa secara kimia napas manusia mengeluarkan CO2 dan gas ini dapat terlarut ke dalam air. Jika CO2 bereaksi pada makanan menghasilkan asam karbonat, lalu karbondioksida dari mulut kita akan berikatan dengan uap air dari makanan dan menghasilkan asam karbonat yang akan mempengaruhi tingkat keasaman dalam darah kita sehingga akan menyebabkan suatu keadaan dimana darah kita akan menjadi lebih asam dari seharusnya sehingga pH dalam darah menurun, keadaan ini lebih dikenal dengan istilah asidosis.
Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida.
Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih. Tetapi kedua mekanisme tersebut tidak akan berguna jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat. Sejalan dengan memburuknya asidosis, penderita mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, semakin mual dan mengalami kebingungan. Bila asidosis semakin memburuk, tekanan darah dapat turun, menyebabkan syok, koma dan bahkan kematian
Jangan menyesal kemudian karena hal sepele. Sehat itu mahal harganya itulah slogan yang sering terlontarkan. Mari kita biasakan budaya yang sehat agar menunda bibit penyakit dan kita bias beraktivitas dengan maksimal. Jangan menyesal kemudian karena hal sepele. Jadi, sekarang lebih baik menunggu dan bersabar menyantap makanan ya.
Referensi :
http://klikbelajar.com/pelajaran-sekolah/pelajaran-kimia/bahaya-meniup-makanan-dan-minuman-yang-masih-panas/

Rensensi film

The Help

Pada saat ini saya akan bersinopsis sebuah film. Mengapa saya mengambil dari sebuah film? Karena film ini, menurut saya sangat inspiratif dan banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari film tersebut. Film ini berjudul The Help. The Help movie adalah sebuah film drama yang di sutradarai serta ditulis oleh Tate Taylor yang diangkat dari sebuah novel berjudul The Help oleh Kathyrn Stockett. Cerita film ini menceritakan apa yang akan terjadi jika suatu tradisi dan adat yang sudah tertanam dalam masyarakat akhirnya bisa dipecahkan oleh ketiga wanita yang akhirnya memiliki persahabatan yang tidak biasa. Pemeran dalam The Help Movie adalah Emma Stone, Viola Davis, Bryce Dallas Howard, Chris Lowell, Octavia Spencer, Jessica Chastain, Allison Janney, dan Dacid Oyelowo.
Film memiliki latar tahun 1960an di Mississippi, Amerika. Aibileen Clark (Viola Davis) adalah wanita Afrika-Amerika yang mengabdikan hidupnya untuk bekerja dengan prominent southern families dan baru saja kehilangan anak satu – satu nya. Dan ia, mengasuh seorang anak kecil yang lucu dari keluarga tersebut. Minny Jackson ( Octavia Spencer ) adalah wanita Afrika-Amerika yang sering sekali dipecat dari pekerjaannya dan terkenal sebagai pembantu yang sangat susah untuk dipekerjakan. Mereka salah satu dari sekian banyaknya pembantu yang mendapatkan perlakuan diskriminasi dari sang majikan. Para majikan memisahkan toilet mereka dengan para pembantu, sebab tersebar issue bahwa orang negro berkulit gelap memiliki penyakit yang dapat tertular, tetapi mereka tetap sabar atas isue dan memendam keluh kesal pada diri sendiri.
Sedangkan Eugenia “Skeeter” Phelan atau Skeeter (Emma Stone) adalah gadis berkulit putih yang baru saja lulus dari University of Mississippi dan mendapatkan pekerjaan sebagai jurnalis. Ketika skeeter melihat aibileen, Dia teringat dan memutuskan untuk mencari pengasuhnya saat dia kecil yang tiba – tiba secara misterius hilang. Dan, skeeter membuat jurnal mengenai kehidupan para pembantu berkulit gelap. pertama-tamanya sketeer hanya meminta aibileen untuk diwawancara, namun ternyata jurnalnya disetuju oleh direkturnya dan sketeer disuruh mengembangkan wawancara dan mencari data yang lebih banyak lagi, alhasil semua pembantu berkulit gelap menceritakan keluh kesahnya selama bekerja kepada sketeer.
Lalu setelah buku itu diterbitkan, banyak respon postif datang. Mereka mulai menerima perbedaan dan menjalin hubungan baik dengan para pembantu berkulit hitam. Skeeter bertanya pada ibunya apa yang terjadi pada pengasuhnya. Mengapa ia hilang secara tiba-tiba? Setelah diceritakan dan mengetahu sebenarnya, skeeter merasa kehilangan karena pada kenyataannya pengasuhnya itu sudah meninggal karena telah tua. Dan, setelah sukses junal yang dijadikan buku itu, skeeter mendapatkan panggilan pekerjaan di New York namun ia tidak mengambilnya karena merasa berat meninggalkan aibileen dan minny yang telah memberikan pelajaran hidup baginya. Tapi, aibileen dan miny pun mendukung untuk skeeter mengambil pekerjaan tersebut. Dan skeeter pun akhirnya mengambilnya kembali. 
Banyak pelajaran yang dapat diambil selama film itu diputar. Salah satunya, orang berkulit gelap juga manusia yang harusnya mendapatkan perlakuan yang sama dengan sewajarnya. Karena didunia ini tidak ada yang abadi, yang abadi hanyalah amal perbuatan yang akan dipertanggung jawabkan di akhir nanti. Dan, berterimakasih lah kalian dengan orang yang telah membantu pekerjaan kita khususnya para pembantu.  jalinlah hubungan baik dengannya. Karena manusia ini makhluk yang saling memerlukan bantuan, tidak dapat hidup sendiri tanpa orang disekeliling.
Sekian sinopsis dari The Help movie. Alangkah bagusnya kalian bisa menontonnya sendiri, karena pada saat menontonnya kalian akan mendapatkan feelnya. Terimakasih.
“ i take care you, and you take care me”

Monday, December 17, 2012

Tipe dan Bentuk Organisasi

TIPE DAN BENTUK ORGANISASI


I. PENDAHULUAN
   Organisasi? banyak orang yang ikut sertakan dirinya diorganisasi, khususnya mahasiswa. Organisasi berperan penting antara hungan personal dengan lingkungannya sendiri. Baik lingkungan kecil di sekitar mereka, maupun lingkungan ke luar negeri. Dalam tugas kali ini saya akan membahas tentang tipe dan bentuk organisasi, struktur dari sebuah organisasi, serta konflik-konflik yang sering terjadi dalam sebuah organisasi.

II. ISI
    
A. TIPE dan BENTUK ORGANISASI

Banyak sekali TIPE-TIPE ORGANISASI, kami akan menjabarkan pengertiannya satu persatu.
·      LINE ORGANIZATION
·      LINE AND STAFF ORGANIZATION
·      FUNCTIONAL ORGANIZATION
·      COMMITTEE ORGANIZATION
1. LINE ORGANIZATION
Tertua, paling sederhana. Tugas perencanaan, pengendalian berada di satu orang, line authority langsung dari pimpinan kapada bawahan.

Ciri line organization
§ Tujuan organisasi sederhana
§ Organisasinya kecil
§ Jumlah karyawan sedikit
§ Pimpinan dan karyawan saling mengenal & dpt berhubungan setiap hari
§ Hubungan pimpinan-karyawan bersifat langsung
§ Tingkat spesialisasi, alat yg diperlukan tidak begitu tingi tdk beraneka ragam

Kebaikan & keburukan
§Kesatuan pimpinan
§ Garis perintah
§ Proses pengambilan keputusan
§ Pengawasan
§ Tingkat solidaritas

2. LINE & STAFF ORGANIZATION

 Ciri :
§ Organisasi besar, kompleks
§ Jumlah karyawan banyak
§ Daerah kerja luas
§ Hubg kerja yg bersifat langsung tdk mungkin lagi
§ Pimpinan-karyawan bisa tidak saling mengenal
§ Spesialisasi beraneka ragam & digunakan scr optimal

Terdapat 3 komponen utama :
§ Pimpinan (pengendali, pnanggung jawab, menetukan tuj, kebijaksanaan, keputusan)
§ Staf (pembantu pimp) : staf koordinasi (nasihat, pengawasan), staf teknik (pelayanan teknis)
§ Pelaksana : pelaksana tugas

KEBAIKAN & KEBURUKAN
§ Ada pembagian tugas yg jelas
§ Potensi dapt dikembangkan optimal
§ Prinsip organizing dpt diterapkan
§ Pengambilan keptusan cepat, ahli
§ Koordinasi mudah, krn ada pembagian tugas
§ Moral anggota tinggi, krn sesuai keahlian
3. FUNCTIONAL ORGANIZATION
     Adalah organisasi yg disusun berdasarkan sifat & macam-macam fungsi yg hrs dilaksanakan

 Ciri :
§ Pembidangan tugas scr tegas & jelas dpt dibedakan
§ Dlm melaksanakn tgs tdk banyak memerlukan koordinasi trutama pd tingkat pelaksana bwhn krn bidang tugas sdh jelas.
§ Koordinasi ada pd tingkat pimpinan
§ Pembagian unit organisasi didsrkan spesialisasi tugas
§ Para direktur mempunyai wewenang komando thd unit yg ada dibawahnya, tidak perlu atas nama direktur utama
Dpt terlihat pd perusahaan yg bidang tugasnya dpt digariskan scr tegas, mis : unit produksi, pemasaran, keuangan, dll

KEBAIKAN & KEBURUKAN
§ pembidangan tugas jelas
§ spesialisasi dapt dikembangkan optimal
§ Solidaritas /moral dalam satu bidang tinggi
§ Koordinasi dalam satu bidang mudah
§ Koordinasi menyeluruh terjadi pd tingkat pimpinan
4. COMMITTEE ORGANIZATION
Umumnya dibentuk dalam waktu yg terbatas untuk melaksanakan tugas-tugas.

 Ciri :
§ Tugas tertentu, jangka waktu terbatas
§ Seluruh unsur pimp duduk dlm panitia (ketua/anggota)
§ Kepemimpinan kolektif, tanggungjwb kolektif
§ Semua anggota pimp mempunyai hak, wewenang, tggjwb yg sama
§ Pelaksana dikelompokkan menurut bidang tugas ttt yg hrs dilaksanakan dlm bentuk tugas

KEBAIKAN & KEBURUKAN
§ Keputusan diambil scr tepat krn dibicarakan scr kolektif
§ Kemungkinan tindkan diktatoris kecil
§ Kerja sama dikalangan pelaksanan muda
B. BENTUK-BENTUK ORGANISASI
a. Bentuk Organisasi Garis
b. Bentuk Organisasi Fungsional
c. Bentuk Organisasi Garis dan Staf
d. Bentuk Organisasi fungsional dan Staf
1. Organisasi Garis
   Oleh Henry Fayol (Paris)
Bentuk organisasi yang paling sederhana dan paling tua, digunakan di kalangan militer dengan jumlah karyawan yang masih sedikit dan saling kenal, dan spesialisasi kerja yang belum begitu tinggi.
Kelebihan
a. kesatuan komando baik karena pimpinan berada di atas satu tangan
b. proses pengambilan keputusan berjalan dengan cepat.
c. Solidaritas karyawan tinggi karena saling kenal.
Kekurangan
a. jika sang pemimpin tidak mampu maka akan mudah jatuh
b. ada kecendrungan bertindak otokratis
c. kesempatan berkembang terbatas

2. Organisasi Fungsional
    Oleh F.W. Taylor.
Pimpinan-pimpinan yang ada tidak mempunyai bawahan yang jelas karena setiap pimpinan mempunyai wewenang memberik komando sepanjang ada hubungannya dengan fungsi atasan tersebut.
Kebaikan
a. Pembagian tugas jelas
b. Spesialisasi karyawan dapat dikembangkan dan digunakan dengan maksimal
c. Digunakan tenaga ahli dalam berbagai bidang sesuai dengan fungsi-fungsinya.
Keburukan
a. Spesialilsasi menyebabkan susah “tour of duty”
b. Karyawan mementingkan bidangnya sehingga sukar melaksanakan koordinasi.
3. Organisasi Garis dan Staf
    Oleh Harrington Emerson
Biasanya digunakan oleh organisasi besar dengan daerah kerja yang luas dengan bidang tugas yang beraneka ragam serta rumit. Memiliki satu atau lebih tenaga staf tenaga ahli yang memberi saran atau nasihat.
Kebaikan
a. Dapat digunakan oleh tenaga organisasi sebesar apapun dan sekompleks apa pun.
b. Keputusan yang matang dan sehat dapat diperoleh karena adanya tenaga ahli.
c. Dapat mewujudkan “The right man in the right place”.
Keburukan
a. Solidaritas sukar diwujudkan karena tidak saling kenal
b. Koordinasi kadang sukar diterapkan karena terlalu luasnya organisasi
4. Organisasi Staf dan Fungsional
Merupakan kombinasi organisasi staf dan funsional, memiliki kekurangan dan kelebihan seperti halnya organisasi staf dan fungsional.
B. STRUKTUR ORGANISASI                                                                                                             
   Struktur adalah cara sesuatu disusun atau dibangun Organisasi adalah suatu wadah berkumpulnya minimal dua orang untuk mencapai sebuah tujuan. Sedangkan, Struktur Organisasi adalah Suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian secara posisi yang ada pada perusahaaan dalam menjalin kegiatan operasional untuk mencapai tujuan.
dicontohkan :
<< adalah contoh dari struktur organisasi disebuah perusahaan jasa.
Tiap bagan memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. Tiap bagan memiliki fungsi yang saling berintegrasi dalam menjalankan tujuan yang sama. Sehingga diperlukan kekompakan dari tiap personal untuk mencai impian bersama.
C. KONFLIK DALAM ORGANISASI                                                                                                  
  
           Konflik adalah suatu proses antara dua orang atau lebih dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkannya atau membuatnya menjadi tidak berdaya.
          Konflik itu sendiri merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat maupun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggota atau antar kelompok masyarakat lainnya, konflik itu akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik yang dapat terkontrol akan menghasilkan integrasi yang baik, namun sebaliknya integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan suatu konflik.
Jenis – Jenis Konflik :
Ada lima jenis konflik dalam kehidupan organisasi :
1. Konflik dalam diri individu, yang terjadi bila seorang individu menghadapi ketidakpastian tentang pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya. Bila berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan, atau bila individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya.

2. Konflik antar individu dalam organisasi yang sama, dimana hal ini sering diakibatkan oleh perbedaan–perbedaan kepribadian.Konflik ini berasal dari adanya konflik antar peranan ( seperti antara manajer dan bawahan ).

3. Konflik antar individu dan kelompok, yang berhubungan dengan cara individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja mereka. Sebagai contoh, seorang individu mungkin dihukum atau diasingkan oleh kelompok kerjanya karena melanggar norma – norma kelompok.

4. Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama, karena terjadi pertentangan kepentingan antar kelompok atau antar organisasi.

5. Konflik antar organisasi, yang timbul sebagai akibat bentuk persaingan ekonomi dalam sistem perekonomian suatu negara. Konflik ini telah mengarahkan timbulnya pengembangan produk baru, teknologi, dan jasa, harga–harga lebih rendah, dan penggunaan sumber daya lebih efisien.

Sumber-Sumber Utama Penyebab Konflik Organisasi
Penyebab terjadinya konflik dalam organisasi, yaitu :
1. Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan,
2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda pula,
3. Perbedaan kepentingan individu atau kelompok,
4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat, dan
5. Perbedaan pola interaksi yang satu dengan yang lainnya.
Teknik-Teknik Utama Untuk Memecahkan Konflik Organisasi
Ada beberapa cara untuk menangani konflik yaitu :
1. Introspeksi diri,
2. Mengevaluasi pihak-pihak yang terlibat,
3. Identifikasi sumber konflik,
  
Jenis dan Sumber Konflik
Terdapat berbagai macam jenis konflik, tergantung pada dasar yang digunakan untuk membuat klasifikasi. Ada yang membagi konflik berdasarkan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, ada yang membagi konflik dilihat dari fungsi dan ada juga yang membagi konflik dilihat dari posisi seseorang dalam suatu organisasi.
a. Konflik Dilihat dari Posisi Seseorang dalam Struktur Organisasi
Jenis konflik ini disebut juga konflik intra keorganisasian. Dilihat dari posisi seseorang dalam struktur organisasi, Winardi membagi konflik menjadi empat macam. Keempat jenis konflik tersebut adalah sebagai berikut :
1) Konflik vertikal,
   yaitu konflik yang terjadi antara karyawan yang memiliki kedudukan yang tidak sama dalam organisasi. Misalnya, antara atasan dan bawahan.
2) Konflik horizontal, 
    yaitu konflik yang terjandi antara mereka yang memiliki kedudukan yang sama atau setingkat dalam organisasi. Misalnya, konflik antar karyawan, atau antar departemen yang setingkat.
3) Konflik garis-staf, 
   yaitu konflik yang terjadi antara karyawan lini yang biasanya memegang posisi komando, dengan pejabat staf yang biasanya berfungsi sebagai penasehat dalam organisasi.
4) Konflik peranan, 
    yaitu konflik yang terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu peran yang saling bertentangan.
b. Konflik Dilihat dari Pihak yang Terlibat di Dalamnya
Berdasarkan pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik, Stoner membagi konflik menjadi lima macam , yaitu:
1) Konflik dalam diri individu (conflict within the individual). 
    Konflik ini terjadi jika seseorang harus memilih tujuan yang saling bertentangan, atau karena tuntutan tugas yang melebihi batas kemampuannya. Termasuk dalam konflik individual ini, menurut Altman, adalah frustasi, konflik tujuan dan konflik peranan .
2) Konflik antar-individu (conflict between individuals). 
    Terjadi karena perbedaan kepribadian antara individu yang satu dengan individu yang lain.
3) Konflik antara individu dan kelompok (conflict between individuals and groups). 
    Terjadi jika individu gagal menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok tempat ia bekerja.
4) Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama (conflict among groups in the same organization). 
    Konflik ini terjadi karena masing-masing kelompok memiliki tujuan yang berbeda dan masing-masing berupaya untuk mencapainya. Masalah ini terjadi karena pada saat kelompok-kelompok makin terikat dengan tujuan atau norma mereka sendiri, mereka makin kompetitif satu sama lain dan berusaha mengacau aktivitas pesaing mereka, dan karenanya hal ini mempengaruhi organisasi secara keseluruhan .
5) Konflik antar organisasi (conflict among organizations). 
    Konflik ini terjadi jika tindakan yang dilakukan oleh organisasi menimbulkan dampak negatif bagi organisasi lainnya. Misalnya, dalam perebutan sumberdaya yang sama. 
Strategi Penyelesaian Konflik 
  •  Integrating (Problem Solving).
Dalam gaya ini pihak-pihak yang berkepentingan secara bersama-sama mengidentifikasikan masalah yang dihadapi, kemudian mencari, mempertimbangkan dan memilih solusi alternatif pemecahan masalah. Gaya ini cocok untuk memecahkan isu-isu kompleks yang disebabkan oleh salah paham (misunderstanding), tetapi tidak sesuai untuk memecahkan masalah yang terjadi karena sistem nilai yang berbeda. Kelemahan utamanya adalah memerlukan waktu yang lama dalam penyelesaian masalah.
  
  •  Dominating (Forcing). 
Orientasi pada diri sendiri yang tinggi, dan rendahnya kepedulian terhadap kepentingan orang lain, mendorong seseorang untuk menggunakan taktik “saya menang, kamu kalah”. Gaya ini sering disebut memaksa (forcing) karena menggunakan legalitas formal dalam menyelesaikan masalah. Gaya ini cocok digunakan jika cara-cara yang tidak populer hendak diterapkan dalam penyelesaian masalah, masalah yang dipecahkan tidak terlalu penting, dan waktu untuk mengambil keputusan sudah mepet. Tetapi tidak cocok untuk menangani masalah yang menghendaki partisipasi dari mereka yang terlibat. Kekuatan utama gaya ini terletak pada minimalnya waktu yang diperlukan. Kelemahannya, sering menimbulkan kejengkelan atau rasa berat hati untuk menerima keputusan oleh mereka yang terlibat.
  • Avoiding.
 Taktik menghindar (avoiding) cocok digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sepele atau remeh. Gaya ini tidak cocok untuk menyelesaikan masalah – malasah yang sulit atau “buruk”. Kekuatan dari strategi penghindaran adalah jika kita menghadapi situasi yang membingungkan atau mendua (ambiguous situations). Sedangkan kelemahannya, penyelesaian masalah hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan pokok masalah.
  • Compromising. 
Gaya ini menempatkan seseorang pada posisi moderat, yang secara seimbang memadukan antara kepentingan sendiri dan kepentingan orang lain. Ini merupakan pendekatan saling memberi dan menerima (give-and-take approach) dari pihak-pihak yang terlibat.Kompromi cocok digunakan untuk menangani masalah yang melibatkan pihak-pihak yang memiliki tujuan berbeda tetapi memiliki kekuatan yang sama. Misalnya, dalam negosiasi kontrak antara buruh dan majikan. Kekuatan utama dari kompromi adalah pada prosesnya yang demokratis dan tidak ada pihak yang merasa dikalahkan. Tetapi penyelesaian konflik kadang bersifat sementara dan mencegah munculnya kreativitas dalam penyelesaian masalah.
III. KESIMPULAN
Dalam berorganisasi kita perlu adanya hubungan baik. Baik antar personal maupun dirinya dengan team tersebut. Karena hubungan yang harmonis dalam sebuah organisasi akan menghasilkan tujuan yang memuaskan.
IV.REFRENSI
http://lytya-24.blogspot.com/2012/11/konflik-organisasi.html
http://nandaeka92.blogspot.com/2012/07/tipe-tipe-bentuk-organisasi.html

Perubahan dan Perkembangan Organisasi

Perubahan dan Perkembangan Organisasi

I. PENDAHULUAN
    Setiap tahun pasti tiap manusia mengalami perubahan pada dirinya. Baik perubahan internal maupun eksternal. Maupun organisasi, organisasi dari tahun ke tahun pasti memiliki perubahan maupun perkembangan. Perubahan itu bisa berdampak positif maupun negatif bagi organisasi itu sendiri.
II. ISI
1. FAKTOR-FAKTOR PERUBAHAN ORGANISASI
Dalam organisasi terdapat 2 faktor terjadinya perubahan organiasi, yaitu faktor  intern dan faktor ekstern 
A.    Faktor intern, faktor yang berasl dari dalam organisasi tersebut, antara lain: 
1.      Perubahan tujuan 
2.      Perluasan wilayah operasi tujuan 
3.      Volume kegiatan yang bertambah banyak 
4.      Sikap dan perilaku dari para anggota organisasi. 

B.     Faktor ekstern, faktor yang berasal dari luar organisasi tersebut, antara lain
  1.      Politik 
  2.      Hukum 
  3.      Kebudayaan 
  4.      Teknologi 
  5.      Sumber daya alam
  6.      Demograf
   7.      Sosiologi 
Sikap organisasi dalam mengahadapi terjadinya perubahan lingkungan inetrn dan ekstern antara lain : 
1.      Mengadakan perubahan struktur organisasi
2.      Mengubah sikap dan perilaku pegawai
3.      Mengubah tata aliran kerja
4.      Mengubah peralatan kerja
5.      Mengubah prosedur kerja
6.      Mengadakan perubahan dalam hubungan kerja antar personel. 
2. PROSES PERUBAHAN 
Organisasi mengalami perubahan karena organisasi selalu mengahdapi berbagai macam tantangan. Berikut ini adalah macam-macam proses organisasi :
1.      Mengadakan pengkajian
2.      Mengadakan identifikasi
3.      Mengadakan perubahan
4.      Menentukan strategi
5.      Melakukan evaluasi

3. CIRI_CIRI PENGEMBANGAN ORGANISASI
Pengembangan organisasi mempunyai dua arti, yaitu pengembangan organisasi sebagai fungsi administrasi dan pengembangan organisasi sebagai fungsi spesialis atau sebagai suatu teknik manajemen.
            Pada dasarnya pengembangan organisasi merupakan usaha yang dilakukan secara berencana, terus-menerus meliputi organisasi secara keseluruhan untuk meningkatkan efektivitas dan kesehatan organisasi dengan menerapkan azas-azas dan praktek yang dikenal dalam kegiatan organisasi.
Ciri-ciri pengembangan organiasi antara lain :
1.      Pengembangan organisasi merupakan usaha yang dilakukan secara berencana
2.  Pengembangan organisasi mencerminkan suatu proses yang berlangsung terus-menerus.
3.      Pengembangan organisasi berorientasi masalah organaisasi yang hrus dipecahkan.
4.      Pengembangan organisasi merupakan usaha kearah penyempurnaan organisasi.
5.     Pengembangan organisasi merupakan tanggapan terhadap berbagai perubahan yang terjadi diluar organisasi.

4.      METODE PENGEMBANGAN ORGANISASI
A.    Metode pengembangan organisasi antara lain :
1.      Jaringan manajerial
2.      Latihan kepekaan
3.      Pembentukan tim
4.     
Umpan balik survey
B.     Metode pengembangan keterampilan dan sikap antara lain :
1.      Latihan ditempat kerja
2.      Latihan instruksi kerja
3.      Latihan diluar tempat kerja
4.      Latihan ditemapat tiruan.
III. KESIMPULAN
      Dalam berorganisasi lebih baik sering diadakan motivasi trainer, agar peningkatan kinerja yang berdampak untuk sumber daya manusianya sendiri.
IV. REFRENSI
http://kamilfiki.blogspot.com/2012/01/teori-organisasi-umum-perubahan-dan.html
Wikipedia