PELAPISAN SOSIAL
Dalam
lingkungan masyarakat kita melihat bahwa ada pembeda-bedaan yang
berlaku dan diterima secara luas oleh masyarakat. Di sekitar kita ada
orang yang menempati jabatan tinggi seperti gubernur dan wali kota dan
jabatan rendah seperti camat dan lurah. Di sekolah ada kepala sekolah
dan ada staf sekolah. Di rt atau rw kita ada orang kaya, orang biasa
saja dan ada orang miskin.
Perbedaan itu tidak hanya muncul dari
sisi jabatan tanggung jawab sosial saja, namun juga terjadi akibat
perbedaan ciri fisik, keyakinan dan lain-lain. Perbedaan ras, suku,
agama, pendidikan, jenis kelamin, usia atau umur, kemampuan, tinggi
badan, cakep jelek, dan lain sebagainya juga membedakan manusia yang
satu dengan yang lain.
Pitirim A. Sorokin berkata
bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke
dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah
adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan
ada lapisan-lapisan di bawahnya.
Setiap lapisan tersebut
disebut strata sosial. P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau
dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang
ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak
istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan. Istilah stand juga
dipakai oleh Max Weber.
Dasar-dasar pembentukan pelapisan sosial
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut.
Ukuran kekayaan
Kekayaan
(materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota
masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa
memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas
dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa
tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah.
Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat
tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya,
maupun kebiasaannya dalam berbelanja.
Ukuran kekuasaan dan wewenang
Seseorang
yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati
lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang
bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan,
sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai
orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan
wewenang dapat mendatangkan kekayaan.
Ukuran kehormatan
Ukuran
kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan.
Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas
dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini
sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat
menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para
orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran
ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang
menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu
pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial
masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya
terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang
disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor
ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul
akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang
tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga
banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk
memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap,
ijazah palsu dan seterusnya.
Macam-Macam / Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial
1. Stratifikasi Sosial Tertutup
Stratifikasi
tertutup adalah stratifikasi di mana tiap-tiap anggota masyarakat
tersebut tidak dapat pindah ke strata atau tingkatan sosial yang lebih
tinggi atau lebih rendah.
Contoh stratifikasi sosial tertutup
yaitu seperti sistem kasta di India dan Bali serta di Jawa ada golongan
darah biru dan golongan rakyat biasa. Tidak mungkin anak keturunan
orang biasa seperti petani miskin bisa menjadi keturunan ningrat /
bangsawan darah biru.
2. Stratifikasi Sosial Terbuka
Stratifikasi
sosial terbuka adalah sistem stratifikasi di mana setiap anggota
masyarakatnya dapat berpindah-pindah dari satu strata / tingkatan yang
satu ke tingkatan yang lain.
Misalnya seperti tingkat pendidikan,
kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Seseorang yang tadinya
miskin dan bodoh bisa merubah penampilan serta strata sosialnya menjadi
lebih tinggi karena berupaya sekuat tenaga untuk mengubah diri menjadi
lebih baik dengan sekolah, kuliah, kursus dan menguasai banyak
keterampilan sehingga dia mendapatkan pekerjaan tingkat tinggi dengan
bayaran / penghasilan yang tinggi.
Apa sih yang dimaksud dengan Kemajemukan Sosial??
Pengelompokkan masyarakat secara horisontal yang didasarkan pada adanya perbedaan Ras, Etnis (suku bangsa), klen, agama dsbnya.
Kemajemukan masyarakat Indonesia terbentuk karena beberapa hal seperti:
-
Keadaan geografis Indonesia yang terdiri dari beberapa ribu pulau
besar kecil dari barat sampai ke timur yang kemudian tumbuh menjadi satu
kesatuan sukubangsa yang melahirkan berbagai ragam budaya.
-
Indonesia terletak antara dua titik silang samudra yaitu Samudra Hindia
dan Samudra Pasifik. Letak strategis ini merupakan daya tarik bagi
bangsa-bangsa asing datang dan singgah di wilayah ini sehingga
Amalgamasi (perkawinan campur) dan Asimilasi (perbauran budaya) diantara
kaum pendatang dan penduduk asli maupun antara kaum pendatang sendiri
terjadi. Hal demikian membuat masyarakat Indonesia terdiri dari
berbagai ras, etnis dan sebagainya.
Iklim yang berbeda antara
daerah satu dengan daerah lain menimbulkan perbedaan mata pencaharian
penduduknya. Contoh: orang yang tinggal di wilayah pedalaman cenderung
bermata pencaharian sebagai petani, sedangkan yang tinggal di wilayah
pantai sebagai nelayan/pelaut.
Dapat ditarik kesimpulan dengan adanya
Diferensiasi Sosial mempengaruhi terbentuknya anekaragam budaya,
misalnya : bahasa, dialek, kesenian, arsitektur, alat-alat budaya,
dsbnya.
Stratifikasi Sosial pastinya menimbulkan efek bagi
kehidupan masyarakat. Selain menimbulkan tumbuhnya pelapisan dalam
masyarakat, juga munculnya kelas-kelas sosial atau golongan sosial.
Adanya
pelapisan sosial dapat pula mengakibatkan atau mempengaruhi
tindakan-tindakan warga masyarakat dalam interaksi sosialnya. Pola
tindakan individu-individu masyarakat sebagai konsekwensi dari adanya
perbedaan status dan peran sosial akan muncul dengan sendirinya.
Pelapisan
masyarakat mempengaruhi munculnya life chesser & life stile
tertentu dalam masyarakat, yaitu kemudahan hidup dan gaya hidup
tersendiri. Misalnya, orang kaya (lapisan atas) akan mendapatkan
kemudahan-kemudahan dalam hidupnya, jika dibandingkan orang miskin
(lapisan bawah); dan orang kaya akan punya gaya hidup tertentu yang
berbeda dengan orang miskin.
masyarakat Indonesia cenderung
meniru budaya asing yang masuk. marilah kita menyikapi budaya budaya
yang baru dengan bijak. Ambil dan kembangkan baiknya dan buang yang
jelek. Dan saling bersatu menjaga persatuan Indonesia tanpa membedakan
ras, agama, suku, dll. ciptakan kondisi yang nyaman, aman dan tentram
dengan orang lain dan alam sekitar.
sumber : http://pipitembem23.wordpress.com/2010/11/06/pelapisan-sosial/